Powered By Blogger

Kamis, 13 Maret 2014

PANJONGKOKU

Angin sumilir mbeset kulit
Ing tengah wengi kang saya wingit
Bun padha kumlawe ngawe-awe
Jangkrik wis leren ngerik
Mung manuk dares sing isih methangkring

Kanca-kancaku wis padha turu
Kari aku ing ngarep komputer
Ngrungokake sekar macapat

Ing tengah weng iki
Pamujiku muga ora lali
Marang omah iki
Sing nguntabake sakabehe pangimpen
Dadi kasunyatan jati.

LAKUNE EMBUN

Pingin dak cecepi embun kang mrentul
ing saben pucuk alang-alang
supaya ati tansah teles memes
sak durunge srengenge jumedhul
nyebar cahya marang sesuketan
sak durunge sumelet nrobros dhadha
gampang rengka
 
Sak durunge dhadha rumpeg gampang cubriya
sak durunge ati runtik lan melik
 
Embun-embun nelesi gegodhongan saka lebu
aku lingsem kaya watu-watu
ndlesep nylamur pandulu
ing sangisore ngrembuyung alang-alang
 
Dudu alang-alang kang ngumpetake watu-watu
memalangi ombere alang-alang
lemah-lemah kang kena pepalang
kanggo pandhelikan satu gegremetan
 
 Pengin dak cecepi embun kang mrentul
ing saben pucuk alang-alang
supaya ora gampang sesatru
marang watu-watu.

PANGUPO JIWO

Totokromo ngedohake panyendono
Ajining diri gumantung ono ing lathi
Ajining rogo gumantung ono ing busono
Tumindak kang jujur cinondro budi kang luhur
Alang-alang dudu aling-aling margine kautaman
Sopo weruh ing panuju sesat sugih pager wesi
Katentremaning batin kuwi gumantung ing roso panarimo
Sing iso rumongso ojo rumongs
Sengsaraning rogo yen tinompo amung dadi cobo
Eling saben narimo luhur ing pambudi
Wani guno wani ngalah luhur wekasane
Bondo iku titipan,nyowo iku gaduhan,pangkat iku sampiran mulyo ojo adigang adigung adiguno
o biso

KAU TAK PERNAH MENGERTI

Aku tahu, tak ada yang bisa disalahkan dengan keadaan ini. Tak ada yang bisa disalahkan dengan perasaanku, ataupun perasaanmu. Karena ini, masalah hati,perasaan yang tak dapat dipaksa, ataupun diinginkan.

Tentang aku, yang mulai mengagumimu saat 4tahun lalu. Dan kini, perasaanku terus berkembang dan bertahan. Aku sadar kini, aku lebih dari hanya sekedar mengagumimu saja.

Tentang kamu, yang mungkin tidak pernah tau apa yang aku rasakan. Tak akan perduli denganku, segala hal tentangku. Karena aku tahu, dia, yang kini sangat kau sayangi.

Kau tahu? Kenyataan itu seharusnya membuatku melupakanmu bukan? Membuatku membencimu? Pikiranku, otaku, akal sehatku masih normal, mereka mengatakan bahwa aku, harusnya menyerah, aku seharusnya tak bertahan, aku seharusnya melupakan asa tentangmu. Namun tak seperti itu, karena hingga saat ini, aku, hatiku masih bertahan di kamu. Karena hati, tak dapat dibohongi, hati tak dapat memilih. Karena ini masalah ketulusan, perasaan yang tak akan pernah dimengerti oleh pikiran, dan akal. Karena ini abstrak, hanya dapat dirasakan, tak dapat dideskripsikan ataupun diterjemahkan.

Aku pernah berusaha untuk membencimu, melawan hatiku. Namun, hatiku terus meradang, menyuarakan kenyataan yang ada. Menyuarakan apa yang sebenarnya aku rasakan. Dan konflik batin di dalam diriku sendiri, sungguh membuatku lebih menderita.

Tentang kamu, yang sama sekali tidak mengetahui dan perduli dengan apa yang aku rasakan. Dan Tentangku, yang masih bertahan untukmu, dan selalu membicarakanmu dengan-Nya,selalu menyisipkan namamu di setiap bait doaku.

Terimakasih, aku ucapkan kepadamu
Karena darimulah, aku mengerti tentang arti ketulusan, tentang arti sebuah kesabaran akan penantian yang tidak terbatas.

Sabtu, 07 Desember 2013

Sampurnaning Urip, Sampurnaning Pati

Add caption
Sajatine ora ana apa-apa, awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana dhihin iku Ingsun, ora ana Pangeran anging Ingsun sajatining kang urip luwih suci, anartani warna, aran, lan pakartining-Sun (dzat, sipat, asma, afngal).



Bahasa Jawa di atas memiliki arti sebagai berikut: Sesungguhnya tidak ada apa-apa, sejak masih awang-uwung (suwung, alam hampa) belum ada suatu apapun, yang ada pertama kali adalah Ingsun, tidak ada Tuhan kecuali Aku (Ingsun) sejatinya hidup yang lebih suci, mewakili pancaran dzat, sifat, asma dan afngal-Ku (Ingsun).

Kalau menilik dari kata-kata tersebut, maka kita akan bisa mawas diri tentang keberadaan kita sebagai manusia. Kita ini siapa, darimana dan nantinya bakal ke mana. Ketika terlahir ke alam dunia, manusia masih berbentuk bayi dan tidak membawa satu lembar kain pun. Saat menjadi bayi itu, kita yang semula tidak perlu disuapi ketika masih berada di dalam perut ibu, sudah mulai diperkenalkan dengan kejamnya dunia. Dimana kita harus menangis meronta-ronta untuk bisa mendapatkan makanan dengan cara disuapi ibu.

Namun ketika kita menginjak pada masa kanak-kanak, tidak ada hal-hal terindah yang menghiasi kehidupan ini selain bermain dan bermain bersama teman-teman sebaya. Bahkan ketika melihat sungai, kali ataupun empang yang ada di sekitar rumah kita, maka kita yang masih kanak-kanak ketika itu melihat keindahan yang luar biasa. Kita melihat anugerah GUSTI ALLAH yang Maha Besar lewat alam semesta yang diciptakan. Maka, jangan heran ketika kita melihat gunung, pantai dan lainnya, pandangan kanak-kanak kita akan mengagumi keindahan alam Sang Pencipta itu.

Waktu pun beranjak dan terus berlalu. Akhirnya masa kanak-kanak kita berganti dengan masa remaja. Di masa remaja inilah kita sudah mulai menerima unsur-unsur positif dan negatif dari lingkungan. Tragisnya, di masa ini kita masih belum bisa memilah-milah mana yang benar dan mana yang salah. Semuanya ditelan mentah-mentah. Di masa inilah pembentukkan jiwa terjadi. Kalau yang dominan unsur negatif, maka seseorang di masa depannya akan diwarnai dengan perilaku yang negatif. Tetapi kalau unsur positif yang banyak masuk, maka kehidupan orang tersebut di masa depan akan menjadi lebih terang dan terarah.

Ketika kita mulai menginjak masa dewasa dan sudah memutuskan untuk menikah, maka keindahan alam semesta ciptaan GUSTI ALLAH yang ketika masa kanak-kanak kita saksikan, akhirnya musnah. Yang ada adalah berganti dengan pandangan duit, duit dan duit. Kita disibukkan untuk mencari harta dunia. Semua yang kita lakukan semata-mata adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Harta dunia itulah yang mulai menghalang-halangi pandangan kita terhadap keberadaan GUSTI ALLAH.

Buktinya, walaupun kita shalat, meditasi, tafakur ataupun semedi, kadangkala yang tampak di depan kita hanyalah persoalan-persoalan yang berkutat pada duit. Pertanyaan besar yang muncul, DULU KITA INI SIAPA, PUNYA APA DAN SEKARANG KITA PUNYA APA?

Jawabannya mudah, dulu kita ini bayi, kanak-kanak, remaja tidak punya apa-apa. Tetapi ketika dewasa dan berumahtangga, kita "DITITIPI" oleh GUSTI ALLAH dengan anak, istri dan harta benda. Tragisnya, kita malah bangga dengan harta benda yang kita peroleh. "Kekayaan ini adalah hasil kerja kerasku selama ini," ujar kita meski dalam hati.

Tidak, sekali-kali tidak. Harta benda, anak, istri dan apapun yang kita miliki di dunia ini bukanlah milik kita. Itu sekedar "TITIPAN" Sang Kuasa. Kalau Anda merasa memiliki semuanya, mampukah Anda menghalang-halangi bahaya kebakaran yang akan melumat habis harta benda Anda? Mampukah kita menghalang-halangi nyawa anak kita yang akan dipanggil oleh GUSTI ALLAH? Bahkan kita sendiri tidak mampu menolak ketika nyawa kita hendak dicabut dari jasmani ini oleh Tuhan.

SEMUA MILIK GUSTI ALLAH

Pada bait di atas disebutkan kata-kata dzat, sipat, asma, afngal.

ZAT: Semua di dunia ini yang memiliki zat, itu milik GUSTI ALLAH. Coba Anda cari adakah di dunia ini yang sifatnya bukan zat?

SIFAT: Semua makhluk ataupun benda yang memiliki sifat-sifat adalah milik GUSTI ALLAH.

ASMA: Asma adalah berarti nama. Semua benda yang ada di dunia ini yang memiliki nama, adalah milik GUSTI ALLAH. Coba Anda cari makhluk ataupun benda di dunia ini yang tidak memiliki nama. Selama memiliki nama, itu kepunyaan GUSTI ALLAH.

AFNGAL: Rasa. Semua makhluk ataupun benda di dunia ini yang memiliki rasa, maka adalah milik GUSTI ALLAH.

Kembali ke pertanyaan dasar: Lalu kita ini punya apa? Jelas, tidak punya apa-apa. Ketika mati pun kita tidak akan membawa sepeser pun uang. Masihkah kita merasa sebagai makhluk yang adigang-adigung-adiguno? Jelas tidak. Kita harus pandai-pandai mepes hawa nafsu agar kita bisa kembali sebagai satria sejati. Satria sejati adalah manusia yang bisa menemukan sampurnaning urip lan sampurnaning pati (sempurnanya hidup, dan sempurnanya mati).

Sedulur Papat Antara Kejawen dan Islam

Add caption
Keberadaan kita hidup di dunia ini tidak sendiri. Semenjak pertama kali kita diturunkan ke alam dunia lewat rahim ibu, Tuhan sudah menitahkan adanya penjaga-penjaga yang senantiasa mendampingi kita hidup di alam dunia. Dan sesuai dengan perintah Tuhan, para penjaga-penjaga itu dengan setia senantiasa berada di sekeliling kita.



Bagi orang Jawa, khususnya orang yang memahami tentang Kejawen, adanya para penjaga tersebut dikenal dengan sebutan “Sedulur Papat”. Siapa saja Sedulur Papat itu? Sedulur papat yang dikenal masyarakat yang memahami Kejawen adalah:
1. Kakang Kawah (Air Ketuban)
2. Adhi Ari-Ari (Ari-ari)
3. Getih (Darah)
4. Puser (Pusar)

Kakang Kawah
Yang disebut dengan Kakang Kawah adalah air ketuban yang menghantarkan kita lahir ke alam dunia ini dari rahim ibu. Seperti kita ketahui, sebelum bayi lahir, air ketuban akan keluar terlebih dahulu guna membuka jalan untuk lahirnya si jabang bayi ke dunia ini. Lantaran air ketuban (kawah) keluar terlebih dulu, maka masyarakat Kejawen menyebutnya Kakak/Kakang (saudara lebih tua) yang hingga kini dikenal dengan istilah Kakang Kawah.

Adhi Ari-Ari
Sedangkan yang disebut dengan adhi ari-ari adalah ari-ari jabang bayi itu sendiri. Urutan kelahiran jabang bayi adalah, air ketuban terlebih dulu, setelah itu jabang bayi yang keluar dan dilanjutkan dengan ari-ari. Karena ari-ari tersebut muncul setelah jabang bayi lahir, maka masyarakat Kejawen biasanya mengenal dengan sebutan Adhi/adik Ari-ari.

Getih
Getih memiliki arti darah. Dalam rahim ibu selain si jabang bayi dilindungi oleh air ketuban, ia juga dilindungi oleh darah. Dan darah tersebut juga mengalir dalam sekujur tubuh si jabang bayi yang akhirnya besar dan berwujud seperti kita ini.

Puser
Istilah Puser adalah sebutan untuk tali pusar yang menghubungkan antara seorang ibu dengan anak yang ada dalam rahimnya. Dengan adanya tali pusar tersebut, apa yang dimakan oleh sang ibu, maka anaknya pun juga ikut menikmati makanan tersebut dan disimpan di Ari-Ari. Disamping itu, pusar juga digunakan oleh si jabang bayi untuk bernapas. Oleh karena itu, hubungan antara ibu dengan anaknya pasti lebih erat lantaran terjadinya kerjasama yang rapi untuk meneruskan keturunan. Semuanya itu atas kehendak dari Gusti Allah Yang Maha Kuasa.

Ketika seorang jabang bayi lahir ke dunia dari rahim ibu, maka semua unsur-unsur itu keluar dari tubuh si ibu. Unsur-unsur itulah yang oleh Gusti Allah ditakdirkan untuk menjaga setiap manusia yang ada di muka bumi ini. Maka bila masyarakat Kejawen hingga kini mengenal adanya doa yang menyebut saudara yang tak tampak mata itu secara lengkap yaitu
“KAKANG KAWAH, ADHI ARI-ARI, GETIH, PUSER, KALIMO PANCER”.

Pancer
Lalu siapakah yang disebut dengan istilah Pancer? Yang disebut dengan istilah Pancer itu adalah si jabang bayi itu sendiri. Artinya, sebagai jabang bayi yang berwujud manusia, maka dialah pancer dari semua ‘saudara-saudara’nya yang tak tampak itu.

Kesamaan Dengan Islam
Antara ajaran Kejawen dengan Islam ada kesamaannya. Dalam Islam disebutkan bahwa setiap manusia dijaga oleh malaikat-malaikat yang ditugaskan oleh Tuhan. Siapa saja malaikat-malaikat itu? Malaikat-malaikat yang ditugaskan oleh Gusti Allah untuk setiap manusia itu antara lain, Jibril, Mikail, Izroil dan Isrofil.

Nah, kesamaan antara ajaran Kejawen dan Islam tersebut yakni Kakang Kawah yang disebutkan sebagai pembuka jalan si jabang bayi, itu di Islam dianggap sama dengan Jibril (Penyampai Wahyu). Malaikat Jibril lah yang membuka jalan bagi keselamatan sang bayi hingga lahir ke dunia.

Sedangkan Adhi Ari-ari yang disebut-sebut di dalam ajaran Kejawen, di dalam Islam dianggap sama dengan Mikail (Pembagi Rezeki). Karena lewat Ari-Ari itulah si jabang bayi dapat hidup dengan sari-sari makanan yang didapatkan dari seorang ibu.

Sementara Getih (darah) , bagi orang Kejawen, pada pemahaman orang Islam dianggap sama dengan keberadaan malaikat Izroil (pencabut nyawa). Buktinya, jika tidak ada darahnya, apakah manusia bisa hidup?

Yang terakhir adalah Puser. Dalam pemahaman masyarakat Kejawen, Puser adalah sambungan tali udara (napas) antara sang ibu dengan anaknya. Nah, pada pemahaman Islam, Puser ini dianggap sama dengan Isrofil (Peniup Sangkakala). Meniup sangkakala menjelang kiamat Qubro (kiamat Besar) adalah dengan napas.

Oleh karena itu, kita wajib mengenali siapa penjaga-penjaga tak nampak yang sudah diperintahkan Gusti Allah untuk senantiasa mendampingi kita. Dengan kita mengenali keberadaan mereka, akhirnya mereka nantinya bisa mawujud (berwujud). Dan yang perlu diingat lagi, jika kita sudah melihat wujud mereka, maka hendaknya kita senantiasa memuji atas kebesaran Gusti Allah yang Maha Agung. Karena atas titah Gusti Allah-lah kita semua bisa hidup berdampingan dengan penjaga-penjaga yang disebut dengan Sedulur Papat, Kalimo Pancer.

NGUNDOH WOHING PAKARTI

Add caption
Hidup di dunia ini sama juga dengan hidup bermasyarakat. Hidup bermasyarakat itu diatur oleh aturan-aturan yang sudah ditetapkan dan tertulis, maupun aturan yang tidak tertulis. Aturan yang ditetapkan itu contohnya seperti undang-undang yang tertulis. Begitu juga dengan agama merupakan aturan kehidupan bermasyarakat untuk menjadi lebih baik dan tenteram.

Dalam hidup di dunia ini banyak hukum yang kita kenal. Contohnya, hukum pidana, hukum perdata yang semuanya termasuk dalam hukum di pengadilan. Ada lagi hukum-hukum pernikahan, hukum adat, hukum tata negara dan lain-lainnya. Dengan kata lain, banyak hukum yang ada di sekeliling manusia. Semua hukum tersebut ditetapkan bertujuan untuk mengatur kehidupan manusia.

Dari semua hukum yang kita kenal itu, rata-rata seluruhnya bisa kita 'akali'. Maksud dari kata 'akali' tersebut adalah bisa dirubah oleh manusia yang bersangkutan. Contoh, hukum pidana, ketika seseorang dihukum 10 tahun penjara karena berbuat pidana, maka dengan duit (sogokan) maka seseorang hanya bisa dihukum hanya menjadi 2 tahun saja. Demikian juga dengan hukum-hukum lainnya semuanya bisa dinegosiasi dan dibicarakan sehingga lebih ringan dan lebih mudah.

Tapi dari sekian banyak hukum yang ada itu, ada satu hukum yang tidak bisa ditawar-tawar lagi dan pasti berlaku bagi umat manusia di dunia. Hukum itu disebut hukum karma. Hukum karma tidak bisa disogok oleh duit seperti halnya hukum-hukum lainnya. Hukum Karma adalah hak prerogatif GUSTI ALLAH pada setiap manusia yang hidup di dunia.

Orang Jawa mengenal betul kata-kata "Ngunduh Wohing Pakarti". Kata-kata itu memiliki arti yang luas. Tetapi jika disempitkan, maka arti dari kata-kata itu adalah "setiap perbuatan manusia di dunia akan menuai hasilnya".

Ada seorang teman berkata,"Lho nanti semua pembalasan itu kan akan dilakukan GUSTI ALLAH ketika manusia itu sudah mati?" Oh....tidak! pembalasan GUSTI ALLAH itu tidak akan menunggu manusia mati, baru dibalas. Di dunia ini pun GUSTI ALLAH akan membalasnya.

Contoh, jika kita sering merasa iba pada orang yang tak punya dan sering memberi makan mereka, suatu saat ketika kita tidak punya, maka GUSTI ALLAH akan membalasnya dan tiba-tiba kita diberi makan orang. Tetapi sebaliknya, jika kita suka memukul orang, maka GUSTI ALLAH akan membalasnya langsung di dunia dan tiba-tiba kita dipukul orang.

Dari hukum karma itulah, GUSTI ALLAH ingin menunjukkan pada umat manusia di dunia ini bahwa GUSTI ALLAH memiliki hukum yang seadil-