 |
| Add caption |
Sajatine
ora ana
apa-apa, awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana
dhihin iku Ingsun, ora ana Pangeran anging Ingsun sajatining kang urip
luwih suci, anartani warna, aran,
lan pakartining-Sun (dzat, sipat, asma, afngal).
Bahasa Jawa di atas memiliki arti sebagai berikut: Sesungguhnya tidak ada
apa-apa, sejak masih awang-uwung (suwung, alam hampa) belum ada suatu
apapun, yang ada pertama kali adalah Ingsun, tidak ada Tuhan kecuali Aku
(Ingsun) sejatinya hidup yang lebih suci, mewakili pancaran dzat,
sifat, asma dan afngal-Ku (Ingsun).
Kalau
menilik dari kata-kata tersebut, maka kita akan bisa mawas diri tentang
keberadaan kita sebagai manusia. Kita ini siapa, darimana dan nantinya
bakal ke mana. Ketika terlahir ke alam dunia, manusia masih berbentuk
bayi dan tidak membawa satu lembar kain pun. Saat menjadi bayi itu, kita
yang semula tidak perlu disuapi ketika masih berada di dalam perut ibu,
sudah mulai diperkenalkan dengan kejamnya dunia. Dimana kita harus
menangis meronta-ronta untuk bisa mendapatkan makanan dengan cara disuapi ibu.
Namun
ketika kita menginjak pada masa kanak-kanak, tidak ada hal-hal terindah
yang menghiasi kehidupan ini selain bermain dan bermain bersama
teman-teman sebaya. Bahkan ketika melihat sungai, kali ataupun empang
yang ada di sekitar rumah kita, maka kita yang masih kanak-kanak ketika
itu melihat keindahan yang luar
biasa. Kita melihat anugerah GUSTI ALLAH yang Maha Besar lewat alam
semesta yang diciptakan. Maka, jangan heran ketika kita melihat gunung,
pantai dan lainnya, pandangan kanak-kanak kita akan mengagumi keindahan
alam Sang Pencipta itu.
Waktu pun beranjak dan terus berlalu.
Akhirnya masa kanak-kanak kita berganti dengan masa remaja. Di masa
remaja inilah kita sudah mulai menerima unsur-unsur positif
dan negatif dari lingkungan. Tragisnya, di masa ini kita masih belum
bisa memilah-milah mana yang benar dan mana yang salah. Semuanya ditelan
mentah-mentah. Di masa inilah pembentukkan jiwa terjadi. Kalau yang
dominan unsur negatif, maka seseorang di masa depannya akan diwarnai
dengan perilaku yang negatif. Tetapi kalau unsur positif yang banyak
masuk, maka kehidupan orang tersebut di masa depan akan menjadi lebih
terang dan terarah.
Ketika kita mulai menginjak masa dewasa dan
sudah memutuskan untuk menikah, maka keindahan alam semesta ciptaan
GUSTI ALLAH yang ketika masa kanak-kanak kita saksikan, akhirnya musnah.
Yang ada adalah berganti dengan pandangan duit, duit dan duit. Kita
disibukkan untuk mencari harta dunia. Semua yang kita lakukan
semata-mata adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Harta dunia itulah
yang mulai menghalang-halangi pandangan kita terhadap keberadaan GUSTI
ALLAH.
Buktinya, walaupun kita shalat, meditasi, tafakur ataupun
semedi, kadangkala yang tampak di depan kita hanyalah
persoalan-persoalan yang berkutat pada duit. Pertanyaan besar yang
muncul, DULU KITA INI SIAPA, PUNYA APA DAN SEKARANG KITA PUNYA APA?
Jawabannya
mudah, dulu kita ini bayi, kanak-kanak, remaja tidak punya apa-apa.
Tetapi ketika dewasa dan berumahtangga, kita "DITITIPI" oleh GUSTI ALLAH
dengan anak, istri dan harta benda. Tragisnya, kita malah bangga dengan
harta benda yang kita peroleh. "Kekayaan ini adalah hasil kerja kerasku
selama ini," ujar kita meski dalam hati.
Tidak, sekali-kali
tidak. Harta benda, anak, istri dan apapun yang kita miliki di dunia ini
bukanlah milik kita. Itu sekedar "TITIPAN" Sang Kuasa. Kalau Anda
merasa memiliki semuanya, mampukah Anda menghalang-halangi bahaya
kebakaran yang akan melumat habis harta benda Anda? Mampukah kita
menghalang-halangi nyawa anak kita yang akan dipanggil oleh GUSTI ALLAH?
Bahkan kita sendiri tidak mampu menolak ketika nyawa kita hendak
dicabut dari jasmani ini oleh Tuhan.
SEMUA MILIK GUSTI ALLAH
Pada bait di atas disebutkan kata-kata dzat, sipat, asma, afngal.
ZAT: Semua di dunia ini yang memiliki zat, itu milik GUSTI ALLAH. Coba Anda cari adakah di dunia ini yang sifatnya bukan zat?
SIFAT: Semua makhluk ataupun benda yang memiliki sifat-sifat adalah milik GUSTI ALLAH.
ASMA:
Asma adalah berarti nama. Semua benda yang ada di dunia ini yang
memiliki nama, adalah milik GUSTI ALLAH. Coba Anda cari makhluk ataupun
benda di dunia ini yang tidak memiliki nama. Selama memiliki nama, itu
kepunyaan GUSTI ALLAH.
AFNGAL: Rasa. Semua makhluk ataupun benda di dunia ini yang memiliki rasa, maka adalah milik GUSTI ALLAH.
Kembali
ke pertanyaan dasar: Lalu kita ini punya apa? Jelas, tidak punya
apa-apa. Ketika mati pun kita tidak akan membawa sepeser pun uang.
Masihkah kita merasa sebagai makhluk yang adigang-adigung-adiguno? Jelas
tidak. Kita harus pandai-pandai mepes hawa nafsu agar kita bisa kembali
sebagai satria sejati. Satria sejati adalah manusia yang bisa menemukan
sampurnaning urip lan sampurnaning pati (sempurnanya hidup, dan
sempurnanya mati).